Rimmy Attractive Girl Seperti biasa, suasana kelas masih sepi saat aku tiba di sekolah. Aku pun membuka pintu kelas dan membersihkan kelas. Memang hari ini bukan tugasku untuk piket kelas, namun inilah yang kulakukan untuk menghabiskan waktu. Setelah selesai menyapu, teman-temanku mulai berdatangan. Kulihat jam di dinding telah menunjukkan pukul 06.35. Tak terasa 10 menit telah kulalui seorang diri di kelas. “ Hey, My. Rajin sekali kau, pagi-pagi sudah menyapu”, seru Rita. “ Haha, tidak juga. Aku hanya menghabiskan waktu. Daripada bengong tak karuan, lebih baik melakukan sesuatu yang berguna kan?”, jawabku. “ Bagaimana denganmu? Tumben kau datang ke sekolah seawal ini, biasanya kau datang saat bel berbunyi”, tanyaku kepada rita. “ Oh, aku belum mengerjakan pr matematika, jadi aku harus datang awal untuk mengerjakannya” jawab Rita santai. Mendengar jawaban Rita, aku hanya bisa menggelengkan kepala. Yah, seperti itulah dia, anak yang santai dan tidak pernah punya beban. Berbeda denganku, aku ini anak yang terlalu memikirkan segala sesuatu dengan serius. Seperti kata teman-temanku, kalau aku orang yang mudah cemas. ***

 “ Gadis yang bernama Rimmy itu rajin sekali, setiap pagi selalu saja bersih-bersih dan datang pagi sekali. Selain itu wajahnya juga manis. Anak yang menarik. Lumayanlah buat hiburan di pagi hari ”, ucap Ridho dalam hati. “ Tak sia-sia aku berangkat pagi tiap hari “, gumamnya. “ hey, apa yang kau lamunkan? Pagi-pagi sudah melamun, nanti kesambet baru tau kamu”, kejut Tony dari belakang. Tiba-tiba saja Ridho dikejutkan oleh sahabatnya Tony. Tony adalah sahabat karib Ridho, mereka berdua memang tak dapat dipisahkan. Dimana ada Ridho disitu pasti ada Tony. Oleh karena itu, mereka sering diejek homo. Bagaimana tidak, meski keduanya tergolong cowok-cowok beken dengan wajah tampan dan jago olahraga, sampai saat ini tidak satupun dari mereka yang mempunyai pacar. “ Ah, kau Ton. Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang memperhatikan anak kelas sebelah. Lucu sekali dia. Tiap hari datang pagi dan bersih-bersih kelas meski bukan tugasnya.”, jelas Ridho. “ Yang mana? Oh, maksudmu gadis serius itu. Seharusnya bukan kata lucu yang kau utarakan untuknya, cocoknya itu aneh” kata Tony sambil terkekeh. “ Lucu tau, dia anak yang menarik. Selain itu dia juga manis. Ekspresinya berubah-ubah. Kadang serius, kadang bingung, kadang tersenyum. Sungguh sangat menarik “, bela Ridho. “ Terserah kaulah Do. Sepertinya kau yang berubah jadi aneh. Seleramu terhadap cewek sungguh berbeda. Jangan-jangan kau naksir dia ya” goda Tony. “ Entahlah. Aku hanya senang melihatnya”, jelas Ridho. “ Sudahlah. Mari kita ke kantin. Aku lapar sekali ini. Mumpung masih ada waktu ini” paksa Tony. “ Iya. Ayo” ***

 “ My, temankan aku ke kantin yuk. Aku lapar, belum sempat sarapan nih”, ajak Rita. “ Ehm, baiklah”, jawab Rimmy. Mereka berdua pun berangkat ke kantin. Di sana masih lumayan sepi, hanya ada beberapa orang yang sedang sarapan. Ada dua orang cewek yang menurut pengamatan Rimmy adalah anak kelas XI dan juga dua orang cowok yang merupakan anak kelas sebelah. Kedua cowok itu sedang duduk di pojokan dan salah satu dari mereka sedang melihat ke arah Rimmy dan Rita. Rimmy tidak tau apakah dia melihat ke arahnya atau ke arah Rita. Sepertinya ke arah Rita karena Rita cantik dan banyak yang suka padanya. “ Eh, Rit, ada yang ngeliatin kamu tuh dari tadi”. Kataku “ mana?”, tanya Rita. “ Itu tuh, dibelakang kamu”, tunjukku dengan sendok ke arah cowok itu. “ Oh, maksud kamu Ridho? Nggak mungkin ah”, bantah Rita. “ Beneran, dari tadi ngeliat ke arah sini terus”, tekanku lagi. “ Nggak mungkin, malah kemungkinan dia ngeliat ke kamu lagi. Udah deh, cepetan makannya, ntar keburu masuk lagi “ jawabnya. Aku masih memperhatikan ke arah cowok itu sampai kami selesai makan dan beranjak pergi. Sesekali mata kami berdua beradu pandang. Seingatku cowok yang bernama Ridho ini sering melihatku dari selasar kelasnya saat pagi hari. Apa mungkin benar kata Rita bahwa dia sedang memperhatikanku? Tapi pikiran warasku masih lebih egois dari perasaanku yang sudah berbunga-bunga saat ini. Tak mungkin cowok setampan dia tertarik dengan cewek biasa sepertiku. “Ah, sudahlah lupakan saja”, batinku. Ne Not Ne Not... Bel sudah berbunyi, tanda kelas telah berakhir. Cepat-cepat kubereskan buku-buku dan barang lainnya. Saatnya pulang dan menonton drama korea kesukaanku. Saat tiba di parkiran, aku bertemu dengan Ridho lagi. Saat mata kami berpandangan dia menyempatkan tersenyum padaku. Aku pun membalasnya dengan canggung. Setelah itu, dengan laju kupacu sepeda motorku menuju rumah. ***

 “ Ah, gila. Ternyata dia lebih cantik saat dilihat dari dekat”, tukas Ridho. “ Iya, Rita memang cantik dari dulu. Kau saja yang tak sadar” aku Tony. “ Yang bilang Rita cantik itu siapa? Aku bilang Rimmy yang cantik” jelas Ridho. “ Apa? Matamu rabun ya? Jangan-jangan kau benar-benar naksir sama dia atau mungkin kau dipelet sama dia?” seru Tony. “ Tentu saja tidak”, bantah Ridho. “ Sudahlah akui saja. Kalau kau memang naksir sama dia, dekati saja. Daripada kau seperti orang gila begini”, saran Tony. “ Ah, kau ini. Aku masih belum yakin”, tolak Ridho. “ Terserah kau sajalah”, kata Tony mengalah. Selama pelajaran berlangsung, pikiran Ridho melayang entah kemana pergi meninggalkan tempat itu. Waktu sekolah telah berakhir, saatnya untuk pulang dan tidur siang. Saat tiba diparkiran, Ridho bertemu dengan Rimmy. Ridho pun memberanikan diri untuk tersenyum. Dan tak disangka-sangka, Rimmy membalasnya. Ridho sangat senang. Dia tersenyum sepanjang perjalanan pulang. Ibunya hanya bisa terheran-heran melihat kelakuan anaknya yang aneh itu. ***

Ini ketiga kalinya ia berpapasan dengan Ridho hari ini. Rimmy jadi sedikit salah tingkah karena Ridho mengajaknya bicara. “ Hai, Rimmy” “ Hai” “ Ada pelajaran bahasa Inggris nggak hari ini?” “ Ada. Kenapa?” “ Boleh pinjam kamus nggak? Aku lupa bawa kamus, tau sendiri kan kalau Pak Bryan nggak mengizinkan masuk kelas untuk anak yang nggak bawa kamus” “ Iya, tunggu sebentar” Rimmy masuk ke dalam kelas dan membawa kamus bahasa Inggris. Segera ia berikan kepada Ridho. “ Nih” “ Thanks ya, ntar aku kembaliin” “ Iya” Cowok itu terlihat senang sekali. Padahal cuma dipinjami kamus saja sudah begitu senang, pikir Rimmy. ***



 “ Yahuu...” “ Akhirnya ngomong juga kau, coba dari dulu. Kan bisa jadian kau sekarang sama dia” “ Iya ya. Asli deg-degan banget aku” “ hahaha. Beneran suka kan kau sama dia?” “ Iya nih. Abisnya dia beda sama cewek lain. TOP banget lah” “ Hahaha. Terserah kau lah sudah” “ Duh, Ton. Fotoin aku pas pegang kamus dia ya” “ Iya, iya. Norak sekali kau. Hahaha” “ terserah kau mau bilang apa. Yang penting aku suka sama dia” ***

Setelah hampir sebulan PDKT, Ridho nembak aku. Waaww, sesuatu yang tak dapat dipercaya. Aku bertanya padanya, apa yang ia suka dari aku. Padahal aku ini gadis yang sangat biasa. Dia bilang aku pintar, manis, lucu, menarik dan yang pasti dia suka aku apa adanya. Aku belum bisa memberikan jawaban karena aku masih ragu. Aku memang tertarik padanya, tapi apa itu cukup untuk menerimanya. Entahlah. Aku masih bingung. ***
Kenapa dia belum menerima aku? Apa aku tidak cukup baik di matanya? Sungguh membuatku penasaran. Apa aku tembak sekali lagi aja kali ya? Aku sangat menyukainya. ***

 Saat Ridho memberanikan diri untuk kembali menyatakan perasaannya kepada Rimmy, Rimmy sudah bersedia memberikan jawabannya. Dan akhirnya keduanya bisa bersatu. Usaha dan percaya diri yang dilakukan keduanya membuahkan hasil yang baik. ***